Salin dari Blog Aba Soal Motor

Jangan mencoba-coba bermanuver di jalanan Yogyakarta bila Anda belum begitu piawai menaiki motor. Pun demikian bila Anda baru bisa mengendarai motor beberapa bulan. Bila Anda tak acuh pada peringatan saya, baiklah, yang terang satu nasib siap mendera Anda: Anda akan menjadi korban kepongahan centeng jalanan. Anda akan siap dibuat terkaget-kaget di tengah perilaku ugal-ugalan pengendara motor pribumi Yogyakarta.

Jangan berprasangka baik pada kesopanan orang Yogyakarta. Juga tak perlu termakan dengan slogan pribumi Yogyakarta menjadi kawula yang alim lagi taat hukum. Semua ini tengah terkikis deras seiring—saya pinjam judul Kompas edisi Yogyakarta—sebuah pengalaman ”gegar budaya” sebagian warganya. Kendati menyandang predikat Kota Pendidikan dan Kota Budaya, tak akan didapati keterdidikan dan perilaku beradab di jalan. Anda akan dibuat kikuk oleh manuver bak pembalap, kendati di jalanan beruas sempit. Kalaupun Anda memilih menjadi pengalah, terlebih Anda merasa sebagai pendatang, bersiap-siap untuk tidak menutup kelincahan gerak mereka. Anda harus memberi ruang mereka; bila Anda menutupnya, Anda siap-siap diklakson secara vulgar plus cacian.

Tengoklah di perempatan-perempatan Yogyakarta, khususnya di Kota Yogyakarta dan Sleman. Perilaku gegar budaya demikian tampak. Keteraturan, toleransi atau disiplin, sama sekali tidak berbekas. Semua ingin mengedepankan ego masing-masing. Ada kala ada yang melakukan tepo seliro. Tapi ya itu tadi, ia siap dibombardir dengan pekakan klakson. Belum lagi menerobos lampu merah, dengan dalih arah yang lain telah kosong.

Saya tidak begitu mengerti, mengapa mereka yang getol menyuarakan Yogyakarta sebagai kota pluralis, kota yang cinta toleransi, belum mau mengusik hal ini. Ini bukan perkara sepele. Bukankah ihwal kedisiplinan di jalanan merupakan cerminan perilaku dan keberadaban sebuah komunitas, katakanlah dalam konteks ini warga Yogyakarta? Bila di jalanan dan lampu merah saja cermin toleransi tidak tercermin kuat, bagaimana bisa toleransi yang tidak bermakna artifisial bakal berlaku?

Saya masih mencatat, setidaknya ada dua orang penglaju di Yogyakarta yang tak tertandingi bahkan oleh kecepatan motor terbaruku. Ketika masih bermukim di utara, daerah kampus UGM, sering kala masuk kerja saya diselip seorang perempuan pekerja pengendara metik. Awalnya, saya berpikir ia mengejar waktu, hingga memaksanya bergegas menuju kantornya. Namun karena stabil dia menjadi pembalap, dan pengalaman terakhir dia untuk menyelipku meski ruas untuk itu sempit, tahulah saya dia seorang pembalap. Dan perempuan seperti ini bukan satu atau dua orang saja. Bahkan ketika kita di jalanan, mudah mendapati pelajar perempuan menjadi pembalap.

Begitu pula ketika kini saya berdomisili di Yogyakarta bagian barat. Seorang lelaki paruh baya, dengan Jet Cooled-nya masih percaya diri melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Mungkin dia tengah bergegas mengejar waktu, hanya saja ia sering lakukan itu—setahuku.

Dengan dua fakta itu, saya menjadi sadar, wilayah yang saya mukimi ini memang kawasan potensial lahirnya para pembalap. Ini sebab, mengapa pembalap motor semacam Hendriansyah dan Doni Tata, justru lahir bukan dari kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, melainkan dari kota yang sepintas paradoks karena slogan alon-alon asal kelakon-nya.

Kini, tinggal bagaimana kita menyelamatkan diri dari centeng jalanan itu. Kita tidak bisa sekadar telah bisa berkendaraan terampil, tapi juga harus mau peduli pada sekeliling kala di atas kemudian. Saya, misalnya, mewajibkan menolehi kaca spion kiri dan kanan sebelum menyalip. Atau, ketika bus-bus besar di jalanan Ring Road tengah melaju kencang. Bila soal motor harus waspada, apatah lagi raja jalanan yang besar ini. Sudah bukan masanya lagi menanyakan berapa korban akibat keganasan bus yang ugal-ugalan.

Jadi, sekali lagi, kendarai dengan berparadigma: selamat. Selamatkan diri, selamatkan orang dan tentunya selamatkan motor kita. Tak cukup benar-salah kita berkendaraan, tapi juga jumpai benar-salahnya sekeliling kita. Ini wajib lho![]

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar